Anjar Priandoyo

Apakah selamanya IT Auditor akan berputar di area audit and risk management

tinggalkan komentar »

Apa kabarnya nih? Lama kita tidak saling contact. Saya ingin bertanya sebuah pertanyaan yang sangat menggangu saya belakangan ini. Dan saya rasa Mas Anjar punya pengalaman yang mumpuni untuk membantu menjawabnya.

Pertanyaan: “Apakah selamanya IT Auditor akan berputar di area audit and risk management?”

Kenapa saya bertanya demikian, karena personally masih ada impian saya untuk suatu saat nanti menjadi CIO in one of organization (amin). Sementara most of them yg saya lihat adalah berasal dari mereka yang memiliki background pengalaman sales ataupun managing projects or programs. Tidak pernah saya melihat ada auditor yang menyeberang ke sisi sana. Di lain pihak entah mengapa, mungkin sudah digariskan dari di Atas, bahwasannya pekerjaan yang mengikuti saya dan yang ditawarkan selalu terkait Audit, meski selalu apply ke arah consultancy or managing projects.

What would be the future of this line of career?
Terima kasih sebelumnya untuk mau menjawab pertanyaan saya ini :)

Jawaban:
Saya coba jawab ya mas, pertanyaan ini sebenarnya juga relevan untuk banyak profesi sejenis seperti System Administrator, Database Administrator, Programmer, IT Auditor ataupun Project Manager. Kalau menurut saya kita harus melihat hal ini dari 2 sudut pandang yaitu terkait Kesempatan dan Kemampuan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh priandoyo

Mei 7, 2012 pada 2:35 am

Ditulis dalam Teknologi Informasi

Mengelola risiko dalam perjalanan

dengan 3 komentar

“Banyak orang berpengetahuan tapi tidak mau menerapkan ilmu pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari”
“Contoh dokter, sudah tahu jenis makanan itu tidak sehat tetap dimakan, atau sudah tahu kredit itu tidak sehat, tetap dilakukan”

Saya, mengamini pernyataan dosen saya diatas. Memang benar seringkali ilmu yang kita kuasai justru tidak kita terapkan dengan baik. Mungkin memang ada faktor ego seperti kasus dokter tersebut, tapi ada juga karena faktor kedua yaitu ‘sizing’, yang dalam contoh kedua tersebut sangat bisa terjadi juga pada saya.

Faktor sizing ini terjadi karena dalam sehari-hari issue yang saya hadapi adalah seputar issue tingkat perusahaan, tingkat korporasi yang justru mentah saat menghadapi issue ‘kecil’. Mampu mengatasi proyek durasi tahunan, justru gagal mengelola perjalanan pulang kampung 3 hari. Sering terjadi pastinya.

Contoh kali ini tentang mengelola risiko, saya terbiasa menyusun risk register, mengassess tingkat risiko hingga memberikan rekomendasi bagaimana memitigasi risiko tersebut. Tapi dalam kasus dilapangan, contoh perjalanan pulang kampung tersebut, proses pengelolaan risiko tidak berjalan dengan baik.

Beberapa catatan yang saya dapat dari perjalanan kemarin antara lain:

1. Google Maps tidak bisa diandalkan
Blas, sinyal peta elektronik hilang diperjalanan, maklum daerah perbukitan seperti itu. Belum lagi kondisi aktual di perjalanan bahwa banyak jalan yang diblok satu arah.

2. Angkutan umum yang menyesatkan
Meski 4 tahun kuliah di kota ini, tidak menjamin bahwa kita menguasai betul transportasi umum penunjang.

3. Penguasaan jenis transportasi yang tidak memadai
Ternyata saya ‘lupa’ membeli koran sebagai alas tidur, fatal karena durasi terpanjang dan terberat adalah perjalanan di kereta api.

Ditulis oleh priandoyo

April 23, 2012 pada 9:17 pm

Ditulis dalam Kehidupan

Bogowonto – Gajah Wong

tinggalkan komentar »

“Tempat duduknya berhadap-hadapan, jadi tidak nyaman”
“Posisi tempat duduk nyaris tegak sehingga tidak bisa digunakan secara maksimal untuk beristirahat”
“AC memang, tapi rasanya kalau perjalanan malam, kereta non AC sudah cukup”

Mendadak, salah seorang saudara meninggal dunia di Wonosobo. Hari itu saya segera memesan tiket kereta api ke Jogjakarta. Sengaja ke Jogja untuk mampir terlebih dahulu ke saudara disana. Segera saya pergi ke Indomaret, hanya untuk mengetahui bahwa seluruh kereta bisnis menuju dan kembali dari Jogja sudah habis terpesan. Pupus, sudah harapan saya untuk pulang. Namun kemudian saya mencoba untuk menghubungi 121, dan syukurlah disana petugas mengusulkan untuk menggunakan kereta AC Ekonomi. Ya, kereta dengan tarif 150.000, spesifikasinya agak membingungkan, karena harga dibawah kereta bisnis senja, tapi mendapatkan fasilitas AC.

Ternyata, setelah mencoba kedua kereta api ini kesimpulan saya positif. Dengan berbagai kekurangan disana-sini yang tentunya sebanding dengan ‘value for money’nya, saya berpendapat bahwa AC Ekonomi merupakan alternatif yang sangat bisa diandalkan bila tiket Kereta Senja sudah habis, bila masih ada Senja/Fajar tentu saya akan memilih kereta bisnis tersebut.

Ditulis oleh priandoyo

April 23, 2012 pada 8:54 pm

Ditulis dalam Others

Dikaitkatakan dengan , ,

Handicap 3

tinggalkan komentar »

“Jadi handicap kamu berapa Jar? kalau saya handicap saya 3″
“Satu istri dan dua anak”

Suatu ketika si bos yang rutin golf tiap sabtu pagi sambil bercanda menyampaikan pendapatnya kepada saya, bahwa orang tipe seperti dia ternyata cukup kesulitan untuk mendapatkan approval untuk main golf dari keluarganya.

“Iya, anak istri saya hobinya jalan-jalan, mau ga mau saya ikutan”

Tiap-tiap orang memang memiliki keterbatasannya masing-masing. Ada yang punya asma yang gampang kambuh kalau musim hujan tiba, ada yang punya penyakit maag, ada yang punya keluarga besar.

Suatu ketika si bos juga pernah bercerita, disela-sela perjalanan kereta api.

“Dulu, waktu saya masih tinggal di apartemen, saya suka heran, kenapa anak buah saya kalau sudah jam pulang maunya segera pulang, selalu tergesa-gesa seperti mengejar sesuatu.
“Sekarang saya barus sadar, setelah pindah ke BSD, mau tidak mau kereta ini harus terkejar”

Belajar berempati yuk.

Ditulis oleh priandoyo

April 20, 2012 pada 7:00 am

Ditulis dalam Kehidupan

BPMigas oh BPMIGAS

dengan satu komentar

Kalau ada institusi yang bisa membuat saya terbangun tengah malam, merinding, berkeringat dingin. Kalau ada sebuah kantor yang bisa membuat jantung saya berdegup dengan sangat cepat, kepala sempoyongan, makan tidak nyenyak, tidur tak enak. Mungkin perasaan yang sama ketika saya jatuh cinta dahulu, suasana hati serba tidak menentu, hati resah jiwa gelisah.

Ditulis oleh priandoyo

April 19, 2012 pada 10:56 am

Ditulis dalam Kehidupan

Melihat lebih jernih

dengan 6 komentar

“Gimana Jar…”
“Wah mumet bro, puyeng, ribet, kompleks, pusing…”

Bukan sekali, mungkin seminggu bisa 3 kali saya menghadapi situasi penuh tekanan seperti ini, indikatornya juga kian jelas, perut kembung (yang belakangan saya semakin yakin bahwa ini merupakan gelaja awal stress), sakit kepala hingga tidur tidak nyenyak. Penyebabnya macam-macam mulai ketidakpastian seputar proses tender, requirement dan ekspektasi client yang luar biasa, hingga misi-misi ‘impossible’ lainnya yang harus dikerjakan.

Kemarin contohnya, dalam sehari saya harus berada di empat tempat secara berurutan yang berada di ujung ke ujung. Pertama ke Bundaran HI, selanjutnya ke Salemba, dilanjutkan ke TB Simatupang, kemudian ke Pancoran dan berakhir di Bundaran HI lagi. Di semua tempat tersebut saya menghadapi ketidakpastian mulai dari jenis transportasi apa yang akan digunakan hingga apakah panitia/petugas procurement masih membuka layanan -kalau ternyata sudah tutup maka percuma sudah perjalanan panjang hari itu.

Maka rute hari itu (start dari Bundaran HI) adalah menggunakan Kereta Ekonomi (Kota – Bogor), dilanjutkan Taxi, sampai ketempat client, dilanjutkan Ojek, Busway (yang ternyata salah). Tidak lupa ditambah bumbu hujan deras sepanjang perjalanan. Lengkap sudah perjalanan saya hari itu. Paling tidak hanya satu tempat yang meleset saya kunjungi, itupun karena force majeure, dimana hujan sudah terlalu besar untuk saya bisa sampai pada tempat itu tepat waktu.

Kejadian kemarin memang memberikan saya pelajaran banyak tentang moda transportasi alternatif di Jakarta, sehingga tentunya jika harus menjumpai hari dengan perjalanan rumit seperti kemarin saya sudah siap. Tapi pelajaran sesungguhnya bukan pada skill ‘perjalanan’ tadi. Buat saya skill terpenting yang harus saya kuasai adalah belajar untuk melihat lebih jernih situasi dan kondisi yang saya hadapi.

Cara melihat lebih jernih itu bisa diawali dengan menghilangkan distracter dan pengganggu pandangan lainnya, melihat dari sudut pandang yang lebih luas dan kemudian melihat dari cara pandang yang berbeda. Sudah memang, saya masih harus belajar lebih baik lagi.

Ditulis oleh priandoyo

April 18, 2012 pada 2:59 am

Ditulis dalam Pekerjaan

Dikaitkatakan dengan ,

Melakukan rutinitas

dengan satu komentar

Membangun inisiatif strategis sebagai rutinitas. Saya ingat nasihat seorang teman dimana waktu terbaik untuk minum vitamin adalah disaat kita ingat. Mungkin pendapat ini juga berlaku untuk inisiatif lain, dimana kegiatan tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang setiap hari, setiap minggu ataupun setiap bulan. Dengan ini artinya kita tidak perlu lagi membuat penjadwalan atau perencanaan yang sangat matang terhadap suatu hal. Biasanya segala sesuatu yang kita rencanakan matang seringkali gagal. Gagal karena justru ironisnya kita tidak siap menghadapi setiap perubahan atau tantangan baru didepan.

Ditulis oleh priandoyo

April 12, 2012 pada 2:33 am

Ditulis dalam Kehidupan

Menetapkan target

dengan satu komentar

Selain tentunya memonitor resiko apa yang mungkin terjadi didalam proyek, seorang PM yang baik harus bisa menetapkan target. Menetapkan target tidak semata bicara berapa yang harus dicapai, tapi juga harus memikirkan berapa banyak usaha yang dibutuhkan untuk mencapai target tersebut. Tidak mudah memang.

Ditulis oleh priandoyo

April 11, 2012 pada 2:28 am

Ditulis dalam Teknologi Informasi

Proyek? ah proyek

tinggalkan komentar »

Sensitif? sering mendengar istilah ini. Puyeng dengan mekanisme tender yang njelimet. Lelah dengan pelaksanaan proyek yang ga jelas, requirement tidak jelas, deliverables tidak jelas, mustahil dan ga realistis.

Mungkin kita memang harus lebih banyak belajar. Bukan sekedar belajar mengelola proyek. Bukan sekedar teori mengenai Project Management, bukan hanya sekedar memahami karakter team dan rekan kerja, tapi juga pelajaran panjang mengenai prinsip-prinsip kehidupan.

Mengelola proyek dengan sukses bukan hanya memenuhi ekspektasi pihak-pihak terkait. Keputusan dan tindakan yang dilakukan seorang Project Manager sebenarnya merupakan cerminan jujur mengenai bagaimana orang tersebut, bagaimana si PM tersebut menjalani hidupnya, resiko apa yang diambilnya, bagaimana ia bisa mengantarkan proyek tersebut mencapai tujuannya.

Ah beratnya

Anjar Priandoyo, Project+, PMP
Comptia Project+ #1020351002
PMP (Project Management Professional) #1494394

Ditulis oleh priandoyo

April 5, 2012 pada 3:56 am

Ditulis dalam Kehidupan

Begitu cepatnya jaman berubah

dengan 2 komentar

Kemarin saya dan sekeluarga mampir ke ITC BSD untuk berjalan-jalan dan membeli beberapa barang keperluan sehari-hari. Memperhatikan perubahan yang terjadi di ITC BSD seakan memberikan saya potret nyata bahwa perubahan terjadi dengan sangat cepat dan tidak dapat dihindari. Sesuatu yang dulunya megah dan menjanjikan bisa tidak berprospek pada hari ini dan bahkan hilang sama sekali di masa depan.

Bisnis Wartel, Warnet, Air Minum Isi ulang misalnya, ataupun Bisnis Software bajakan dan DVD bajakan yang hilang sama sekali di ITC BSD merupakan suatu keniscayaan bahwa ketika berhadapan dengan pasar dengan selera konsumen, dengan tren masyarakat, maka tidak ada satupun hal yang bisa kita lakukan untuk menantangnya, untuk melakukan perubahan atasnya selain untuk mengikuti, berjalan bersama arus dan menyesuaikan diri didalamnya.

Istri saya -yang salah satu dari sedikit orang bisa bertahan selama lebih dari 4 tahun dalam bidang usahanya- mengatakan bahwa kunci untuk bertahan dibalik perubahan yang begitu cepat ini adalah inovasi dan kreatif. Inovasi dan kreatif akan membuat kita adaptif disetiap perubahan yang terjadi.

Setuju, dan saya ingin menambahkan satu hal, khususnya bagi saya sendiri: Produktif.

Ditulis oleh priandoyo

Desember 10, 2011 pada 10:45 pm

Ditulis dalam Kehidupan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 358 pengikut lainnya.